Kamerun meluncurkan kampanye vaksinasi nasional untuk menghentikan wabah campak tahun ini yang telah menjangkiti lebih dari 3.000 orang, terutama anak-anak. Wilayah yang paling terjangkit negara di Afrika tengah itu adalah perbatasan utara dengan Nigeria dan Chad, tempat 17 anak meninggal bulan ini. Pejabat kesehatan setempat percaya lebih banyak orang tertular, karena hampir 30% populasi mengunjungi fasilitas kesehatan konvensional.

Tim vaksinasi yang dikirim ke kota-kota dan desa-desa di sekitar ibukota Kamerun, Yaounde, itu dipimpin oleh Dr. Edzoa Brice. Edzoa berada di jalan-jalan Yaounde untuk memberi tahu penduduk bahwa tim vaksinasi ditempatkan di semua persimpangan jalan, gereja, sekolah, pasar dan tempat-tempat rakyat berkumpul. Tim vaksinasi tidak akan mengunjungi rumah seperti yang selalu mereka lakukan pada masa lalu. Ia mengatakan pada masa lalu, mereka tidak bertemu banyak orang tua dan anak-anak di rumah, karena mereka pergi ke sekolah, ke lahan pertanian, kantor atau pasar.

Jururawat Theresia Mabuh, anggota tim vaksinasi dari Kementerian Kesehatan Masyarakat Kamerun mengatakan, kampanye vaksinasi ini bertujuan menyelamatkan jutaan nyawa yang terancam oleh wabah campak.

“Ini efisien, sederhana dan gratis untuk semua anak, jadi saya menyerukan kepada semua orang tua untuk memvaksinasi anak mereka. Kami juga mempunyai obat cacing untuk anak-anak usia satu tahun hingga lima tahun. Kami sediakan juga vitamin A yang diberikan untuk bayi usia 6 bulan hingga balita,” kata Theresia Mabuh.

Kementerian Kesehatan Masyarakat melaporkan bahwa di wilayah utara, terdapat lebih 2.000 dari 3.000 kasus dilaporkan tahun ini. Adapun tingkat kelahirannya yang lebih tinggi dan cakupan vaksinasi rutin lebih rendah, karena hampir 3 dari setiap 10 ibu mengunjungi sarana kesehatan tradisional.

Pada November 2019 ini, gambar dari video, seorang anak mendapat vaksinasi campak di sebuah klinik kesehatan di Apia, Samoa. (Foto: AP)

Pada November 2019 ini, gambar dari video, seorang anak mendapat vaksinasi campak di sebuah klinik kesehatan di Apia, Samoa. (Foto: AP)

Mereka lebih suka praktik dukun tradisional Afrika, yang lebih mudah dijangkau daripada rumah sakit yang sangat jauh, kekurangan tenaga dan pengobatan. Kekhawatiran dan kesalahan informasi membuat rasa tidak percaya pada sebagian vaksinasi. Sebagian orang tua menolak atau lupa meminta anak-anak mereka divaksinasi ketika mereka berusia 9 bulan, seperti yang disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Loveline Tossam, ibu berusia 23 tahun dari dua anak mengatakan hal itu setelah kematian bayinya yang berusia 2 tahun, tidak lama setelah dia tiba di rumah sakit distrik Biyem Assi di Yaounde, Staf medis memberi tahunya bahwa ia harus memvaksinasi anak-anaknya.

“Dia batuk, sangat lemah dan muntah tanpa henti. Dua puluh empat jam kemudian, kami kehilangan dia dan sekarang saya tahu bahwa kami seharusnya memberinya vaksinasi,” kata Loveline Tossam.

WHO mencatat, keraguan memvaksinasi adalah salah satu dari 10 ancaman terbesar kesehatan dunia, yang menyebabkan merebaknya kembali campak di beberapa negara.

Perwakilan WHO di Kamerun, Dr. Phanuel Habimana mengatakan, orang harus mempercayai kemampuan vaksin untuk menyelamatkan jiwa. [ps/lt]

Kantor Berita ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here