Program Anak Ayam Lawan Kecanduan Gawai, Disambut dan Dikritisi

0
1

Sudah satu minggu, siswa-siswi SMPN 46 Bandung punya kesibukan baru. Sepulang sekolah, mereka akan menengok anak-anak ayam peliharaan kelompok masing-masing.

VOA berkenalan dengan tiga siswa kelas VII, Adam, Asril dan Galang. Saya lalu mengikuti mereka mengurus lima anak ayam yang ditempatkan di rumah Adam. Begitu tiba di lokasi, mereka langsung sigap mengurus ayam-ayam peliharaan.

“Tadi kasih pakan ayamnya. Ngambil air, kasih vitamin buat minum ayamnya. Terus kasih pakan lagi. Yang tadi udah dikasih pakan, dibersihkan terus dikasih lagi,” papar Galang.

Asril menjelaskan berbagai tugas yang dikerjakan. “Nulis informasi. Ngasih makan, bersihkan kandang. Terus sama ngecek. Bagi-bagi tugas,” jelasnya. Tugas mereka pun selesai dalam waktu lima menit. Mereka akan mengecek kesehatan anak ayam untuk dilaporkan kepada guru pembimbing.

Pemkot Bandung mendistirbusikan 2000 anak ayam dalam program 'chickenisasi' yang diharapkan mengurangi kecanduai pada gawai. (VOA/Rio Tuasikal)

Pemkot Bandung mendistirbusikan 2000 anak ayam dalam program ‘chickenisasi’ yang diharapkan mengurangi kecanduai pada gawai. (VOA/Rio Tuasikal)

Inilah program ‘chickenisasi’ Pemkot Bandung yang diklaim untuk mengatasi ‘kecanduan gawai’ anak-anak. Walikota Bandung Oded Danial mendistribusikan 2.000 anak ayam ke 10 SD dan 2 SMP.

Anak ayam diberikan kepada siswa laki-laki sementara kepada perempuan diberikan bibit tanaman.

Di samping mengurangi aktivitas gawai, program ini diharapkan membantu pendidikan karakter. Seperti menanamkan sifat tanggung jawab dan disiplin.

Pemeliharaan ayam dan tanaman ini dipadukan dengan mata pelajaran IPA, Bahasa Indonesia, dan kewirausahaan.

Ketika meluncurkan program ini, Kamis (21/11), Oded mengaku bahwa program ini ‘dicoba dulu’. Barulah pihaknya akan melakukan riset dan evaluasi atas program ini.

Sekolah dan Siswa Sambut Baik ‘Chickenisasi’

Para siswa yang saya temui mengaku sudah merasakan manfaat program ini.

Mereka bercerita sangat suka main game di telepon genggam.

“Main game. Free Fire…” ujar ketiganya saling bersahutan.

Sekarang aktivitas itu berkurang, ujar Asril. “Kan biasanya main gadget, pulang sekolah main gadget. Sekarang pulang sekolah terus ke rumah Adam,” jelas dia.

Guru SMPN 46 Bandung, Suhartini, menunjukkan kandang-kandang ayam karya siswa yang akan digunakan untuk memelihara anak ayam. (VOA/Rio Tuasikal)

Guru SMPN 46 Bandung, Suhartini, menunjukkan kandang-kandang ayam karya siswa yang akan digunakan untuk memelihara anak ayam. (VOA/Rio Tuasikal)

Guru SMPN 46, Suhartini, berharap banyak pada program ini.

“Harapan sih tetap besar, dan bisa berhasil dengan adanya ini anak terkurangi pemakaian gadgetnya. Atau bisa diatur. Mengurangi. Kita tetap berusaha ke arah sana,” ujarnya saat ditemui di sekolah.

Tini mengatakan para siswa antusias dengan program tersebut.

Sekolah bahkan menghubungi Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung untuk menambah pasokan anak ayam.

“Semoga bisa dapet…Kan saya melihara banyak hewan jadi bisa menambah. Di rumah melihara kucing, ada ayam satu, ada ikan ada burung,” ujar Rahadian, siswa yang tidak dapat ayam.

“Ya supaya lebih banyak (ayamnya) jadi nggak main hape terus,” tambah Ridwan, siswa lain yang tidak kebagian ayam.

Sejauh Mana Ayam Efektif Kurangi Gawai?

Meski disambut siswa-siswi, efektivitas program ini dipertanyakan. Dosen komunikasi Universitas Islam Bandung, Santi Indra Astuti, menilai Walikota Bandung memakai cara pandang lama dalam menyelesaikan problem era digital.

“Generasi digital immigrant itu selalu menganggap generasi digital native itu buang-buang waktu dengan gawainya. Sebagian besar waktunya tersedot ke gawai sehingga mereka perlu diberikan alternatif kesibukan lain. Nah alternatif kegiatan lain itu kadang-kadang nggak melihat kalau anak-anak sekarang hidup di dunia digital,” jelasnya ketika ditemui VOA.

Anggota Jaringan Peneliti Literasi Digital (Japelidi) ini menambahkan, masyarakat umum mudah menuduh anak kecanduan. Padahal bisa jadi anak hanyalah pemakai aktif.

“Kalau umum itu dengan sangat gampang menyatakan adiksi itu untuk satu aja: heavy user. Apakah heavy user itu merupakan tanda dari adiksi?,” tanya Santi.

Kecanduan sendiri adalah kondisi medis yang harus melalui pemeriksaan dokter. WHO sejak 2011 menetapkan kecanduan internet atau games sebagai penyakit kejiwaan, bukan kecanduan gawai.

Santi meminta masyarakat tidak anti-gawai, tapi mengatur pemakaiannya supaya bermanfaat.

Kandidat doktor ini pun mendorong para keluarga menambah aktivitas bersama anak. Sejumlah literatur menunjukkan itu dapat mengurangi aktivitas gawai.

“Jadi alternatif dari studi-studi yang saya baca adalah memperbanyak kegiatan komunitas dan kegiatan keluarga. Field trip dan sebagainya. [rt/em]

Kantor Berita ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here